Archive for August, 2017

Kuliah Kimia? Hanya Modal Jidat, Dengkul dan Yakin

Sudah hampir tiga tahun saya kuliah di salah satu PTS di Yogyakarta. Program Studi Kimia yang saya pilih untuk mengarungi lautan kehidupan di masa depan. Kalau dilihat jurusan ini bisa dibilang susah-susah gampang. Ya seperti kalimat sebelumnya susahnya dua kali gampangnya cuma sekali. Hehehehe

Saya sedikit membagi sedikit cerita kepada pembaca tentang hal yang saya alami ketika kuliah di jurusan ini. Bisa dibilang saya itu orang yang susah buat belajar, yaa mengarah ke tidak pinter dan sedikit malas lah hahaha. Tapi, saya sering mengalami sesuatu hal diluar nalar saya. Mudah-mudahan cerita saya tidak mengandung unsur kesombongan.Saya hanya ingin berbagi cerita, pengalaman dan diakhir sedikit saran. Kisah Apa itu? Ini dia.

Ketika hampir memasuki ujian semester 6 waktu itu masuk pada minggu tenang (tidak ada kegiatan kuliah) saya dapat kabar bahwa ada satu mata kuliah yang tidak dapat saya ikuti. Mengapa? Karena presensi saya kurang dari 75% hehehe (FYI, dikampus saya minimal buat ikut ujian itu 75% kehadiran). Kemudian segala daya upaya udah saya lakuin. Mulai mencari surat sakit palsu (jangan dicontoh!) sampai me lobby dosen semua di lakukan supaya bisa mengikuti Ujian Akhir. Tapi semua gagal, kemudian saya hanya pasrah dan dalam hati saya berkata “yang penting kan ilmunya” (pembelaan mahasiswa hahaha) . Selain itu saya meminta kepada sang Maha Pemberi dan dengan penuh keyakinan, nilai saya pasti tinggi. Singkat cerita, pengumuman nilai keluar. Teman-teman saya gaduh karena nilai mereka rata-rata kecil. Tapi, entah karena saya sangat yakin, percaya dan optimis akan pertolongan Allah, lalu dengan perasaan yakin saya mulai membuka website kampus dan Alhamdullilah Kuasa Allah nilai saya tertulis “A”. Mungkin di jurusan saya hal semacam ini 1:500 mahasiswa dan ini sudah sering saya alami beberapa kali. Agak aneh memang secara logika sepertinya tidak mungkin karena perhitungan nilai A itu didapat dari 20% tugas, 15% keaktifan, 5% kehadiran, 30% nilai UTS, dan 30% nilai UAS (Tergantung dosen dan mata kuliah) . Tapi, Allah lebih punya hak Kuasa, Allah pengatur dunia serta isinya dan, Allah pasti tahu apa yang dilakukan hambanya.

Jika yang lain kuliah bermodal otak dan do’a. Tapi, saya sedikit berbeda. Saya kuliah hanya bermodalkan Jidat, Dengkul, dan yakin. Jidat saya gunakan untuk bersujud merendah di hadapanNya, dengkul saya gunakan untuk berjalan mencari ridho Allah (Ilmu, kebaikan dan pengabdian) , dan semua saya lakukan itu dalam segala Keyakinan bahwa Allah sebaik-baiknya pemberi. Masalah nilai hanya masalah materi. Sama seperi rezeki, manusia yang mencari rezeki dan Allah pemberi rizki. begitu juga mahasiswa tugasnya mencari ilmu, dosen hanya menulis nilai, dan Allahlah yang menentukan semuanya.

Ya itu cerita saya tentang begitu mudahnya jika yang kita cari hanya sebuah “transkip nilai”. Pesan saya menjadi mahasiswa jangan hanya terfokus pada materi. Fokuslah pada proses pencarian ilmu, Idealisme, dan sebuah pengabdian. Ketika lulus nanti bukan nilai yang akan ditanyakan masyarakat tapi seberapa besar manfaat dirimu sebagai mahasiswa. Mahasiswa harus bermental baja, jangan risau hanya karena nilai. Risaulah ketika orang-orang disekitarmu tidak se merdeka dirimu. Mahasiswa jangan galau hanya karena nilai. Galaulah ketika ilmumu hanya menentukan selembar ijazah tanpa kamu abdikan pada negeri ini.

Mengutip dari pernyataan Tan Malaka dalam buku yang berjudul madilog

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali” 

 

Add comment August 22nd, 2017


Recent Comments

Archives

Meta