Kuliah di fakultas Matermatika dan Ilmu pengetahuan Alam merupakan suatu anugrah untuk kita semua. Segala macam kenyamanan seperti gedung, pelayanan, dan fasilitas bisa dinikmati. Namun, segala kenyamanan tadi ternyata masih memiliki kekurangan dari segi mahasiswa dan lembaga kemahasiswaannya. Beberapa Mahasiswa mipa saat ini adalah mahasiswa yang hanya terfokus pada pencapaian-pencapaian pribadi. Mahasiswa lebih mementingkan nilai akademik di bandingkan isu pembangunan pabrik semen di rembang yang dapat merusak lingkungan Seharusnya mahasiswa harus lebih peka terhadap permasalahan sosial ditengah masyarakat. Mahasiswa harus mempunyai pondasi dasar yang kuat yaitu softskill agar ketika mahasiswa terjun di masyarakat mempunyai pengaruh sesuai dengan bidang keilmuannya. Untuk membentuk karakter mahasiswa yang seperti ini lembaga mahasiswa yang harusnya berperan penting. Namun, realita di FMIPA KM UII sendiri tingkat kepercayaan mahasiswa kepada lembaga juga kecil.

Beberapa contoh, apabila terdapat permasalahan seperti kebijakan dari fakultas yang kurang memihak kepada mahasiswa, menurut survey LPM LINER pada tahun 2017 sebanyak 58% hanya di pendam sendiri tanpa disampaikan kepada pihak kelembagaan. Jika di lihat dari konsep student Goverment yaitu pemerintahan dari, oleh, dan untuk mahasiswa seharusnya setiap keluhan mahasiswa disampaikan lembaga dan lembagalah yang harusnya turun tangan mengatasi masalah. Selanjutnya, menurut LPM LINIER FMIPA UII sebanyak
42,08% yang telah di sampaikan sebesar 70% aspirasi disampaikan dengan baik akan tetapi masih sekitar 58,02% dari 162 responden mengatakan lembaga mahasiswa belum menyampaikan aspirasi mahasiswa. Menurut hemat saya itulah penyebab enggannya mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi kepada kelembagaan. Mereka merasa percuma saja jika disampaikan kepada lembaga.Kemudian, untuk setiap kegiatan kelembagaan sebanyak 55.09% yang belum mengikuti bahkan tidak tahu. Padahal seharusnya mahasiswa harus aktif karena uang kemahasiswaan yang di bayarkan sebesar 70% dikelola oleh lembaga mahasiswa. Hal ini terjadi karena beberapa kegiatan kelembagaan di FMIPA KM UII hanya berorientasi kepada eksistensi lembaga itu sendiri, forum verifikasi dan LPJ yang begitu tegang, lama dan rumit, kepedulian lembaga kepada mahasiswa yang sangat rendah, dan tingkat pemahaman mahasiswa tentang kelembagaan yang kurang. Beberapa hal inilah yang membuat kepercayaan kepada lembaga kemahasiswaan di lingkungan FMIPA KM UII turun.

Tentunya hal ini jangan dibiarkan begitu saja. Perlu adanya perubahan yang dilakukan lembaga kemahasiswaan agar menarik minat mahasiswa untuk membentuk karakter madani yang kuat. Madani menurut KBBI adalah beradab. Secara umum mahasiswa madani adalah mahasiswa yang beradab sesuai norma-norma yang berlaku dalam membangun, memaknai, dan, mejalankan peran maupun fungsinya sebagai mahasiswa. Seperti yang kita pahami peran dan fungsi mahasiswa diantaranya adalah sebagai agen perubahan dan agen pengendali sosial. Karakter ini lebih jauh mampu meningkatkan kualitas diri mahasiswa seperti kepemimpinan, kepedulian, dan kemaslahatan yang tidak hanya terfokus pada pencapaian pribadi saja.

Untuk mewujudkan mahasiswa madani ini DPM FMIPA UII harus memiliki karakter visioner, berintegritas, disiplin, aspiratif dan rendah hati. Seperti, Verifikasi kegiatan lebih dibuat dengan suasana nyaman, menyenangkan dan menjadi sarana mahasiswa belajar untuk berdiskusi mencari solusi. Sehingga dapat melatih kemampuan berbicara dan kepekaan mahasiswa mengahadapi setiap permasalahan. Selain itu, DPM FMIPA UII harus lebih dekat dan terbuka lagi dalam menyerap dan menyampaikan aspirasi mahasiswa, melalui kedekatan dan keterbukaan antara mahasiswa dengan lembaga legislatifnya mahasiswa akan merasa memiliki organisasi yang dapat diandalkan. Tak lupa juga, komunikasi dengan pihak fakultas harus lebih intens. Sehingga kemampuan mahasiswa dalam menyuarakan aspirasi akan semakin bertambah. Dengan demikian lembaga mahasiswa dapat dipercaya kembali oleh mahasiswa

Add comment September 2nd, 2017

Kuliah Kimia? Hanya Modal Jidat, Dengkul dan Yakin

Sudah hampir tiga tahun saya kuliah di salah satu PTS di Yogyakarta. Program Studi Kimia yang saya pilih untuk mengarungi lautan kehidupan di masa depan. Kalau dilihat jurusan ini bisa dibilang susah-susah gampang. Ya seperti kalimat sebelumnya susahnya dua kali gampangnya cuma sekali. Hehehehe

Saya sedikit membagi sedikit cerita kepada pembaca tentang hal yang saya alami ketika kuliah di jurusan ini. Bisa dibilang saya itu orang yang susah buat belajar, yaa mengarah ke tidak pinter dan sedikit malas lah hahaha. Tapi, saya sering mengalami sesuatu hal diluar nalar saya. Mudah-mudahan cerita saya tidak mengandung unsur kesombongan.Saya hanya ingin berbagi cerita, pengalaman dan diakhir sedikit saran. Kisah Apa itu? Ini dia.

Ketika hampir memasuki ujian semester 6 waktu itu masuk pada minggu tenang (tidak ada kegiatan kuliah) saya dapat kabar bahwa ada satu mata kuliah yang tidak dapat saya ikuti. Mengapa? Karena presensi saya kurang dari 75% hehehe (FYI, dikampus saya minimal buat ikut ujian itu 75% kehadiran). Kemudian segala daya upaya udah saya lakuin. Mulai mencari surat sakit palsu (jangan dicontoh!) sampai me lobby dosen semua di lakukan supaya bisa mengikuti Ujian Akhir. Tapi semua gagal, kemudian saya hanya pasrah dan dalam hati saya berkata “yang penting kan ilmunya” (pembelaan mahasiswa hahaha) . Selain itu saya meminta kepada sang Maha Pemberi dan dengan penuh keyakinan, nilai saya pasti tinggi. Singkat cerita, pengumuman nilai keluar. Teman-teman saya gaduh karena nilai mereka rata-rata kecil. Tapi, entah karena saya sangat yakin, percaya dan optimis akan pertolongan Allah, lalu dengan perasaan yakin saya mulai membuka website kampus dan Alhamdullilah Kuasa Allah nilai saya tertulis “A”. Mungkin di jurusan saya hal semacam ini 1:500 mahasiswa dan ini sudah sering saya alami beberapa kali. Agak aneh memang secara logika sepertinya tidak mungkin karena perhitungan nilai A itu didapat dari 20% tugas, 15% keaktifan, 5% kehadiran, 30% nilai UTS, dan 30% nilai UAS (Tergantung dosen dan mata kuliah) . Tapi, Allah lebih punya hak Kuasa, Allah pengatur dunia serta isinya dan, Allah pasti tahu apa yang dilakukan hambanya.

Jika yang lain kuliah bermodal otak dan do’a. Tapi, saya sedikit berbeda. Saya kuliah hanya bermodalkan Jidat, Dengkul, dan yakin. Jidat saya gunakan untuk bersujud merendah di hadapanNya, dengkul saya gunakan untuk berjalan mencari ridho Allah (Ilmu, kebaikan dan pengabdian) , dan semua saya lakukan itu dalam segala Keyakinan bahwa Allah sebaik-baiknya pemberi. Masalah nilai hanya masalah materi. Sama seperi rezeki, manusia yang mencari rezeki dan Allah pemberi rizki. begitu juga mahasiswa tugasnya mencari ilmu, dosen hanya menulis nilai, dan Allahlah yang menentukan semuanya.

Ya itu cerita saya tentang begitu mudahnya jika yang kita cari hanya sebuah “transkip nilai”. Pesan saya menjadi mahasiswa jangan hanya terfokus pada materi. Fokuslah pada proses pencarian ilmu, Idealisme, dan sebuah pengabdian. Ketika lulus nanti bukan nilai yang akan ditanyakan masyarakat tapi seberapa besar manfaat dirimu sebagai mahasiswa. Mahasiswa harus bermental baja, jangan risau hanya karena nilai. Risaulah ketika orang-orang disekitarmu tidak se merdeka dirimu. Mahasiswa jangan galau hanya karena nilai. Galaulah ketika ilmumu hanya menentukan selembar ijazah tanpa kamu abdikan pada negeri ini.

Mengutip dari pernyataan Tan Malaka dalam buku yang berjudul madilog

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali” 

 

Add comment August 22nd, 2017

Apa Esensi Organisasi untuk Mahasiswa??

 

Menjadi seorang mahasiswa bukanlah hal mudah, namun bisa dipermudah jika kita mau untuk menjalaninya dengan baik. Caranya, kita harus menjalankan kewajiban kita sebagai mahasiswa dengan semestinya. Menjadi mahasiswa jangan hanya sebatas mahasiswa biasa. Kita harus mengikuti arus pergaulan kampus, tentunya dengan kegiatan-kegiatan yang bernilai positif.

Sebagai seorang mahasiswa kita dituntut untuk menjadi seorang pemimpin di lingkungan keluarga, kerja, maupun masyarakat. Di dunia inilah sebenarnya kita akan menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Kampus tempat terbaik untuk belajar soft skil seperti : kepemimpinan,problem solving, maupun public speaking.

 

“Orang beruntung adalah orang yang bisa memanfaatkan peluang sebaik mungkin”.

Di kampus, kita harus membiasakan diri dengan kehidupan sosial yang baik.  Salah satunya dapat diwujudkan dengan bergabung organisasi. Organisasi adalah wadah dimana kita mencari dan menggali potensi yang kita miliki, lebih tepatnya mencari jati diri sebagai kaum intelektual. Tidak hanya kita duduk mendengarkan dosen memberikan materi, tetapi kita akan merasakan sebuah kebahagian dan kepuasan ketika berhasil memecahkan sebuah permasalahan.

Aspek utama yang menjadi permasalahan ketika kita ingin bergabung dalam organisasi adalah MENTAL. Ketika kita sudah punya mental untuk bergabung di organisasi. Maka, selanjutnya perjalan kita di organisasi akan mudah. Setelah itu kembangkan apa yang ingin kita capai di dalam organisasi. Contoh, mengembangkan kemampuan publik speaking. Berbeda dengan orang yang tidak pernah berorganisasi. Jangankan untuk berbicara di depan umum, berdiskusi dengan kelompok kecilpun susah. Intinya, bergabung organisasi bukan hanya kita ingin ‘eksis’ atau sekedar ikut teman. Jika itu tujuan kita, maka yang akan kita dapat adalah NOL

Kepuasan kita dalam berorganisasi tidak dapat dihitung secara perhitungan molekul. Namun, bisa kita rasakan dengan perasaan. Kita yang dulunya adalah orang yang pemalu, pendiam, dan susah bergaul. Setelah mengikuti organisasi kita bisa belajar mengeluarkan pendapat dengan baik. Tanpa ada rasa gugup melihat banyak orang yang memperhatikan kita.

Pengalaman pribadi, Saya dulunya seorang yang tidak memiliki kemampuan berbicara sedikitpun. Setelah berorganisasi banyak manfaat yang saya dapatkan. Seperti didalam kelas, Saya merasa lebih tenang saat melakukan presentasi tugas. Karena berbicara didepan umum sudah menjadi makanan sehari hari di organisasi. Selain itu, ketika mahasiswa yang tidak pernah berorganisasi merasa kesulitan mengurus administrasi. Melalui kemampuan negosiasi yang didapat dari organisasi, saya mudah dalam mengurus administrasi di bagian perkuliahan, Itulah kira-kira gambaran manfaat yang kita dapat ketika berorganisasi

Seorang mahasiswa akan menghadapi perjalan yang panjang dalam menghadapi mimpi. Tapi, apakah kita akan melewatkan begitu saja perjalan itu dengan hal yang sia-sia?. Jadikan dunia perkuliahan perjalanan terbaik untuk diri kita sendiri. Akan lebih baik pula jika kita dapat memberikan manfaat untuk orang lain.

Terakhir, Mengutip dari perkataan bung karno kepada pemuda

“Masa depan memerlukan lebih banyak lagi amal dari kita semua dan para cendekiawan
Maka dari itu, selamilah terus lautan Ilmu Pengetahuan. namun,  Jangan tenggelam, jangan “Mati” di dasarnya. Timbullah kembali dengan membawa permata untuk perhiasan ibu pertiwi”

NB : Tulisan ini khusus saya buat ntuk adik-adik saya KIMIA UII 2016 yang baru saja menyandang status “mahasiswa” . Selamat datang dan selamat berjuang didunia MAHASISWA

Add comment September 7th, 2016

Ridwan Kamil

Ridwan Kamil lahir di bandung Mochamad Ridwan KamilS.TM.U.D (lahir di BandungJawa Barat4 Oktober 1971 umur 44 tahun) adalah Wali Kota Bandung periode 2013-2018. Sebelum menjadi pejabat publik, pria yang akrab dipanggil Kang Emil ini memiliki karier sebagai seorang arsitek dan dosen tidak tetap di Institut Teknologi Bandung. Emil merupakan putra dari pasangan Atje Misbach Muhjiddin dan Tjutju Sukaesih. Pada tahun 2013 Emil yang dari kalangan profesional dicalonkan oleh Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra sebagai wali kota Bandung dengan didampingi oleh Oded Muhammad Danial sebagai calon wakil wali kota. Rapat Pleno Komisi Pemilihan Umum Kota Bandung pada 28 Juni 2013, pasangan ini unggul telak dari tujuh pasangan lainnya dengan meraih 45,24% suara sehingga Pasangan Ridwan Kamil dan Oded Muhammad Danial ditetapkan menjadi pemenang dalam Pemilihan umum Wali Kota Bandung  2013 (wikipedia, 2016)

Ridwan kamil merupakan sosok yang bisa dikatakan “susah” dicari di zaman ini. Banyak sekali pemimpi saat ini yang hanya memementingkan diri sendiri dan golongan tertentu. dimana menurut saya beliau merupakan seorang pemimpin yang humanistik. Teori humanistik adalah teori yang memanusiakan manusia. Ridwan kamil hadir sebagai pemimpin yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Ada beberapa bukti Ridwan Kamil merupakan seorang pemimpin yang memanusiakan manusia adalah beliau sangat memperhatikan masyarakat bandung dalam hal kepemudaan. Ridwan Kamil mengharapkan pemuda sebagai generasi penerus bangsa untuk lebih bisa menghargai orang lain melalui media sosial. Maraknya pem-bullyan di media sosial yang membuat para pemuda semakin menunjukkan sikap merendahkan diri sendiri maupun orang lain. Media sosial dapat dianalogikan sebagai pedang, jika seseorang dapat memegang pedang dengan baik, akan baik pula fungsi dari pedang tersebut. Begitu sebaliknya, jika pedang di pegang oleh orang yang buruk, buruklah fungsi dari pedang . Sama halnya dengan media sosial. Media sosial harusnya digunakan secara bijak dan dapat dipertanggung jawabkan. Beliau juga berpesan kepada generasi muda untuk peduli akan kondisi bangsa “Tetapi, secara umum, jadilah pemuda yang pencari solusi, bukan pencaci maki”.

Seorang pemimpin sebagai manusia pasti memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Begitu juga sosok Ridwan Kamil yang memiliki karakter yang pintar, tegas, sabar dan merakyat. Dari karakter itulah muncul gaya kepemimpinan dari Ridwan Kamil yaitu Kepemimpinan Horizontal. Kepemimpinan horizontal adalah gaya kepemimpinan yang memperhatikan rakyatnya dibandingkan dengan kepentingan pribadi maupun golongan tertentu. Ridwan kamil lebih melihat kondisi masyarakat bandung dengan turun langsung menemui rakyatnya. Dari sinilah keputusan dari setiap kebijakan yang diambil oleh Ridwan Kamil yang jarang bahkan tidak pernah bertentangan dengan keinginan rakyat. Secara umum gaya kepemimpinan dari Ridwan Kamil mirip dengan Joko Widodo. Namun Ridwan Kamil selain turun kejalan menemui rakyatnya. Beliau dekat dengan rakyat melalui media sosial. Banyak postingan postingan dari Ridwan Kamil yang selalu ditunggu para pemuda Bandung karena postingan beliau yang “anak muda banget”. Indonesia hanya membutuhkan pemimpin yang dekat dengan rakyat. Dari cara beliau yang dekat dengan rakyat saya berpendapat bahwa beliau adalah Pemimpin yang islami. Saya menganalisa bahwa Ridwan Kamil mengikuti gaya kepemimpinan  Nabi Muhammad SAW yang sangat dengan sahabat-sahabatnya..

 

 

Add comment April 22nd, 2016

Bukan Seorang Penulis

Pada postingan pertama ini saya akan menceritakan tentang diri saya. Saya adalah Mahasiswa jurusan Kimia di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarya. Sama dengan mahasiswa kimia pada umumnya tiap hari bergaul dengan zat kimia, mengerjakan tugas, dan organisasi. Sesuai judul diatas saya bukan seorang penulis. Ya, saya bisa dibilang susah untuk menulis, wajar jika nilai menulis pada pelajaran Bhs. Indonesia saya buruk ketika SMA. Sebagai aktivis kampus saya lebih senang berkomunikasi secara lisan dibanding tulisan. Kemudian saya Teringat pesan dari HOS tjokroaminoto guru Ir. Soekarno pernah berkata “Jika kalian ingin menjadi Pemimpin besar Bicaralah seperti orator dan Menulislah Seperti wartawan”dari sini saya menyimpulkan bahwa lisan saja tidak cukup, menulis adalah salah satu modal utama kita berkomunikasi.

Berawal dari kepanitiaan di lingkungan kampus saya mulai belajar menulis, saat itu menjadi staff dari divisi Publikasi dan Humas. Sebenarnya saya lebih menyukai Humas dibanding publikasi. Namun, karena saya senang berkomunikasi dengan siapapun dan kecanggihan media sosial saat ini, Membuat saya menyukai publikasi. Di Publikasi inilah saya mencoba untuk menulis beberapa postingan tentang acara. Karena kelemahan saya ada pada penyusunan kalimat, sehingga informasi kepada publik tidak tersampaikan dengan baik. Maka dari itu saya mulai belajar menulis, Belajar dengan kawan yang pandai menulis, Membuat artikel essay telah coba

Walaupun cita-cita saya bukanlah seorang penulis dan menulis bukanlah hobi saya, tetapi saya berharap dapat terus belajar menulis. Agar saya dapat mengasah kemampuan berkomunikasi melalui tulisan ,

Add comment March 21st, 2016

Hello world!

Welcome to Students.uii.ac.id Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

1 comment March 21st, 2016


Recent Comments

Archives

Meta